Berita

Aug 16, 2011

Pemerintah Aceh Harus Bangun Industri Peternakan

AcehVoice – Lhokseumawe: PEMERINTAH Aceh diminta segera membangun industri peternakan untuk mengatakan tingginya harga daging. Untuk jangka pendek, Pemerintah bisa “mengimpor” untuk mengurangi spekulasi harga saat meugang (hari potong) Idul Fitri mendatang.

Demikian pandangan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh, Wahyuddin Albra, mengenai solusi atas harga daging sapi di Aceh yang sudah tidak rasional lagi karena sudah terlalu mahal dibandingkan dengan daerah mana pun di Indonesia. Hal ini antara lain dipengaruhi budaya meugang yang berlangsung sehari jelang Ramadan dan satu hari jelang Idul Fitri. “Kalau tidak beli daging saat meugang, sepertinya ada yang kurang. Hal ini membuat masyarakat Aceh akan membeli daging berapa pun harganya,” papar Wahyuddin kepada AcehVoice, Selasa (16/8/2011).

Hal lain yang menyebabkan tingginya harga daging sapi di Aceh adalah kurangnya supply mengakibatkan seolah-olah demand-nya tinggi. Padahal, demand hanya tinggi pada hari tertentu seperti meugang dan Maulid Nabi Muhammad. “Faktor taste masyarakat Aceh juga ikut mempengaruhi. Sebagian besar masyarakat Aceh masih menyukai daging sapi lokal sehingga berapapun harganya tetap dibeli. Masyarakat kurang menyukai daging sapi impor meski kelihatannya lebih segar,” lanjut Wahyuddin.

Dia menyarankan Pemerintah Aceh mengimpor daging atau mendatangkan dari luar agar bisa bersaing dengan daging sapi lokal untuk mengurangi tekanan harga. Untuk jangka panjang, Pemerintah harus membangun industri peternakan dalam skala besar, terutama untuk bibit sapi lokal. Kebijakan ini harus menguntungkan peternak karena selama ini tingginya harga daging sapi justru dinikmati tengkulak. “Masyarakat juga perlu mencoba daging alternatif seperti kerbau yang di daerah lain lebih digemari,” tandas Wahyuddin. [ayi jufridar]