Berita

Oct 16, 2010

Mendiknas Saat Pelantikan Rektor:
PTN Harus Proaktif Cari Anak Miskin ke Desa-desa

Prosesi pengambilan sumpah sebelum pelantikan Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Prof Dr Darni M Daud MA dan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Apridal SE MSi periode 2010-2014, di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Jumat (15/10). Kedua rektor tersebut dilantik oleh Menteri Pendidikan RI Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA. SERAMBI/M ANSHAR


BANDA ACEH – Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) RI, Mohammad Nuh meminta pihak perguruan tinggi negeri (PTN), termasuk Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, IAIN Ar-Raniry, dan Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, untuk proaktif mencari anak miskin yang pintar hingga ke SMA/sederajat di pelosok Aceh guna diberikan beasiswa. Mendiknas menyampaikan hal itu dalam sambutannya saat melantik dua rektor untuk masa bakti 2010-2014, yakni Rektor Unsyiah, Prof Dr Darni Daud dan Rektor Unimal, Apridar SE MSi di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Jumat (15/10).

“Sebagai universitas yang meneladani nilai-nilai Islam, kita semua yakin Unsyiah dan Unimal mampu mengembangkan semangat keramahan sosial, yakni proaktif menjemput calon mahasiswa dari ekonomi lemah, tapi memiliki kemampuan lebih hingga ke sekolah di pelosok-pelosok desa. Mereka akan diberikan beasiswa mulai 2011 nanti dan kuliah di Unsyiah dan Unimal,” harap Mendiknas. Menurut Mendiknas, hal itu sesuai dengan amanah Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan yang mengatur bahwa minimal setiap perguruan tinggi di Indonesia harus memberi beasiswa kepada calon mahasiswa kurang mampu, tapi memiliki kemampuan lebih. Jumlah kuota penerima beasiswa itu minimal 20 persen dari total formasi mahasiswa yang diterima pada tahun bersangkutan.

Mendiknas juga berharap Unsyiah dan Unimal merintis pengintegrasian Ujian Nasional (UN) SMA ke dalam sistem ujian masuk Unsyiah dan Unimal, serta menjaring mahasiswa baru program sarjana melalui pola penerimaan secara nasional minimal 60 persen dari jumlah mahasiswa baru yang diterima untuk setiap program studi.

Beasiswa S3
Mohammad Nuh juga menyebutkan Unsyiah saat ini memiliki dosen 1.527 orang, 214 di antaranya (14 persen) bergelar doktor. Sedangkan Unimal, dari 304 dosen, baru 12 orang di antaranya (4 persen) bergelar doktor. “Jumlah ini perlu ditingkatkan. Pada tahun 2011 nanti, Kementerian Pendidikan Nasional akan mempercepat peningkatan kualifikasi dosen bergelar S3 dengan menyediakan beasiswa program doktor untuk 5.000 dosen,” sebutnya. Lebih lanjut, Mendiknas juga berharap Unsyiah dan Unimal memperteguh dan merekonstruksi prinsip tri darma perguruan tinggi, serta membuka peluang untuk mengembangkan diri dan mengantisipasi tantangan yang tidak pernah berhenti.

Dengan demikian, kata Mendiknas, tri darma PT bukan sekadar jargon simbolik, melainkan sesuatu yang sangat fungsional dan bermakna. “Untuk itu, perlu diperkuat pusat-pusat kajian unggulan yang sudah ada, sehingga bisa menjadi think-thank atau center of excellent yang bisa memberi sumbangan nyata pada pembangunan daerah dan nasional,” tambah Mohammad Nuh. Pelantikan kedua Rektor itu turut dihadiri Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf selaku Ketua Dewan Penyantun Unsyiah. Hadir pula Ketua DPRA Hasbi Abdullah, serta unsur Muspida Aceh.

Acara dimulai sekira pukul 09.00 WIB, berlangsung sekitar satu jam. Seusai pelantikan itu, Mendiknas menyempatkan diri berdialog dengan sivitas akademika Unsyiah dan mahasiswa penerima beasiswa bidik misi di lantai tiga ruang Flamboyan Gedung AAC Unsyiah. Dalam pertemuan itu, Mendiknas dan rombongan, antara lain, didampingi Wagub Aceh Muhammad Nazar, Rektor Unsyiah Darni Daud, dan Rektor Unimal Apridar. Dalam dialog yang berlangsung santai itu, Mendiknas menerima laporan bahwa para mahasiswa kurang mampu, tapi berprestasi itu, telah menerima beasiswa bidik misi dari pemerintah pusat senilai Rp 4 juta lebih setahun.

Unjuk rasa
Saat pelantikan rektor maupun saat berlangsung dialog dengan Mendiknas, di luar Gedung AAC belasan mahasiswa yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah berunjuk rasa. Mereka menuntut rektor terpilih transparan terhadap dana dan aset di kampus itu, membangun laboratorium, alat praktikum, dan fasilitas perkuliahan yang sudah tidak layak pakai. Selain itu, para pengunjuk rasa menuntut peningkatan kualitas dosen dalam belajar-mengajar dan aspek kepribadian dosen yang bertindak diskriminatif serta mengintervensi mahasiswa, menuntut kejelasan dana kelembagaan mahasiswa terhadap operasional himpunan mahasiswa jurusan, sehingga tidak lagi ada kutipan biaya kartu rencana studi (KRS) dan kartu hasil studi (KHS) setiap semester.

Mereka juga menuntut kejelasan tentang pengutipan biaya pembelian buku paket dari dosen, pembelian buku praktikum, penyewaan aset Unsyiah oleh mahasiswa, dan menuntut Rektor Unsyiah mengambil sikap tegas terhadap para dosen yang tidak profesional. Meski telah berteriak-teriak di luar gedung, Mendiknas dan Rektor Unsyiah tidak menjumpai para mahasiswa itu. Sebetulnya Mendiknas hendak menjumpai mereka, namun tidak diizinkan pihak rektorat, pasalnya para pengunjuk rasa itu sebelumnya telah diajak berdialog di dalam ruangan, namun mereka tidak bersedia.

Dalam aksi yang dikawal Kapolsek Syiah Kuala, Iptu Azhari SE dan anggotanya itu, para pengunjuk rasa tidak melakukan aksi anarkis. Seusai shalat Jumat, Mendiknas dan rombongan berkunjung ke Politeknik Aceh di Desa Pango, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. Pada kesempatan itu, Mendiknas berdialog dengan mahasiswa dan dosen politeknik tersebut.

Sumber: SerambiNews.com